Identity Fraud dalam Rekrutmen: 64% Organisasi APAC Menemukan Kasus pada 2025
Ada satu temuan penting dalam HireRight Global Benchmark Report 2026 yang relevan bagi HR Indonesia: organisasi di kawasan Asia Pasifik (APAC) melaporkan tingkat penemuan identity fraud yang tinggi pada kandidat atau karyawan sepanjang 2025.
Dalam data tersebut, 64% organisasi di APAC melaporkan pernah menemukan setidaknya satu kasus identity fraud. Sebaliknya, 36% menyatakan tidak mengalami kasus tersebut. Temuan ini menjadi semakin menarik karena 42% organisasi APAC yang disurvei menyatakan tidak melakukan verifikasi identitas secara in-house.
Bagi HR Indonesia, angka ini penting bukan karena menunjukkan bahwa sebagian besar kandidat melakukan fraud, melainkan karena menunjukkan adanya risiko yang perlu dikelola ketika verifikasi identitas kandidat belum dilakukan secara terstruktur. Artikel ini membahas data HireRight, maknanya bagi proses rekrutmen, serta langkah yang dapat diterapkan melalui background screening dan verifikasi identitas kandidat.
Sumber Data: HireRight Global Benchmark Report 2026
Data utama artikel ini bersumber dari HireRight Global Benchmark Report 2026. Data regional yang dibahas mencakup North America, EMEA (Europe, Middle East & Africa), dan APAC (Asia Pacific). Data APAC harus dibaca sebagai data agregat Kawasan, bukan sebagai persentase kandidat atau perusahaan di Indonesia.
Karena itu, data regional digunakan sebagai konteks untuk HR Indonesia, sementara data internal MEVIS digunakan sebagai konteks tambahan dari proses screening di Indonesia.
Gambaran Global: Bagaimana Organisasi Melakukan Verifikasi Identitas?
Data HireRight menunjukkan bahwa Sebagian organisasi masih melakukan verifikasi identitas secara in-house, tetapi tingkat penerapannya berbeda antarwilayah.
North America
Verifikasi In-House (Ya) : 51%
Tidak Verifikasi : 34%
Tidak Tahu : 15%
EMEA
Verifikasi In-House (Ya) : 44%
Tidak Verifikasi : 30%
Tidak Tahu : 26%
APAC
Verifikasi In-House (Ya) : 44%
Tidak Verifikasi : 42%
Tidak Tahu : 14%
Angka APAC menunjukkan gap yang relatif kecil antara organisasi yang melakukan verifikasi identitas secara in-house (44%) dan organisasi yang tidak melakukan verifikasi (42%). Data ini relevan sebagai sinyal bahwa proses identity verification masih memiliki ruang untuk diperkuat. Namun, data tersebut tidak membuktikan bahwa rendahnya verifikasi adalah satu-satunya penyebab tingginya penemuan identity fraud.
Data APAC: 64% Organisasi Menemukan Identity Fraud di 2025
Distribusi tahap ketika identity fraud ditemukan adalah sebagai berikut:
Apakah organisasi Anda mengalami identity fraud pada kandidat atau karyawan di 2025? (APAC)
Tidak mengalami identity fraud : 36%
Ya, pre-hire saat proses rekrutmen : 27%
Ya, post-hire saat rescreening atau monitoring berkala : 20%
Ya, post-hire setelah karyawan meninggalkan organisasi : 19%
Jika tiga kategori penemuan kasus dijumlahkan, hasilnya 64%. Penting untuk ditegaskan: angka 64rarti persentase organisasi yang melaporkan pernah menemukan setidaknya satu kasus identity fraud, bukan 64% kandidat di APAC melakukan identity fraud.
Tiga Titik Waktu Penemuan Identity Fraud
1. 27%: Ditemukan Pre-Hire Saat Rekrutmen
Menemukan identity fraud sebelum keputusan hiring final memberikan perusahaan kesempatan paling besar untuk mengurangi dampak lanjutan. Verifikasi identitas pada tahap ini membantu HR memastikan bahwa informasi kandidat merujuk pada orang yang tepat sebelum akses dan tanggung jawab perusahaan diberikan.
Pelajari juga: Cara Melakukan Background Check Karyawan yang Benar
2. 20%: Ditemukan Post-Hire Saat Rescreening atau Monitoring Berkala
.Temuan post-hire menunjukkan bahwa background screening tidak selalu harus dipandang sebagai proses satu kali. Untuk posisi dengan akses tinggi terhadap data, aset, atau tanggung jawab kritis, perusahaan dapat mempertimbangkan rescreening atau monitoring berkala sesuai kebijakan internal dan kebutuhan bisnis.
Baca juga: Tiga Waktu yang Tepat untuk Melakukan Background Screening: Onboarding, Monitoring, dan Promosi
3. 19%: Ditemukan Setelah Karyawan Meninggalkan Organisasi
Temuan setelah karyawan meninggalkan perusahaan menunjukkan bahwa sebagian risiko baru diketahui ketika ruang untuk melakukan tindakan pencegahan sudah lebih terbatas. Laporan tidak menjelaskan penyebab rinci setiap kasus pada tahap ini, sehingga alasan spesifik di balik angka 19% sebaiknya tidak dipastikan tanpa data tambahan.
Mengapa Data APAC Relevan untuk HR Indonesia?
Indonesia merupakan bagian dari kawasan APAC, sehingga tren regional layak menjadi salah satu referensi ketika perusahaan mengevaluasi proses verifikasi kandidat. Meski demikian, data APAC tidak dapat diperlakukan sebagai data khusus Indonesia.
Tiga pelajaran praktis yang dapat diambil: verifikasi identitas perlu menjadi bagian penting dari background screening; perusahaan perlu menentukan kapan rescreening relevan; dan hasil verifikasi sebaiknya berasal dari sumber yang relevan dan independen serta dapat didokumentasikan.
Baca juga: Background Screening dan Tantangannya dalam Proses Rekrutmen Modern
Apa Hubungan Identity Fraud dengan Background Screening?
Identity fraud merupakan salah satu risiko yang perlu diperhatikan dalam proses background screening. Melalui verifikasi identitas kandidat, perusahaan dapat melakukan cross-check terhadap informasi yang diberikan selama proses rekrutmen dan memastikan bahwa data tersebut merujuk pada individu yang tepat.
Karena itu, background screening tidak hanya berkaitan dengan pemeriksaan riwayat pekerjaan atau pendidikan. Identity verification juga dapat menjadi bagian penting dalam proses verifikasi kandidat, terutama untuk posisi yang memiliki akses terhadap data sensitif, aset, atau sistem penting perusahaan.
Konteks Indonesia: Temuan dari Data MEVIS
Data internal MEVIS yang disebut dalam artikel sumber berasal dari proses screening terhadap lebih dari 17.000 kandidat di Indonesia. Dari data tersebut, 45% kandidat memiliki setidaknya satu temuan dalam kategori administrative risk, yang mencakup ketidaksesuaian data identitas sebagai salah satu komponennya.
Angka internal tersebut tidak dapat dibandingkan satu banding satu dengan angka 64% HireRight karena definisi, populasi, dan metode pengukurannya berbeda. Namun, data tersebut dapat menjadi konteks tambahan bahwa ketidaksesuaian administratif perlu diperhatikan dalam proses verifikasi kandidat.
Pemeriksaan dokumen saja tidak selalu cukup untuk memastikan bahwa identitas yang digunakan kandidat benar-benar merujuk pada orang yang sama. Cross-check ke sumber independen dapat memberikan lapisan validasi tambahan.
Tiga Implikasi Praktis untuk HR Indonesia
1. Jadikan Verifikasi Identitas Bagian dari Standar Screening
HR dapat menetapkan identity verification sebagai salah satu komponen standar background screening untuk posisi dan tahap rekrutmen yang memang memerlukannya. Standar sebaiknya konsisten, terdokumentasi, dan disesuaikan dengan profil risiko posisi.
2.Pertimbangkan Rescreening untuk Posisi dengan Risiko Lebih Tinggi
Data APAC menunjukkan 20% organisasi menemukan identity fraud melalui rescreening atau monitoring berkala. Temuan ini dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi apakah posisi tertentu memerlukan pemeriksaan ulang pada interval yang ditetapkan.
3.Utamakan Verifikasi ke Sumber Independen
Dalam employee verification, informasi kandidat sebaiknya dibandingkan dengan sumber yang relevan dan independen. Dengan demikian, HR tidak hanya memeriksa apakah dokumen terlihat konsisten, tetapi juga apakah informasi tersebut dapat dikonfirmasi.
Bagaimana MEVIS Membantu Verifikasi Identitas Kandidat?
MEVIS menyediakan proses verifikasi identitas dan background screening yang menggunakan sumber independen untuk membantu perusahaan melakukan cross-check terhadap informasi kandidat. Proses dapat dipantau melalui platform ONYX sesuai alur layanan yang digunakan perusahaan.
Untuk perusahaan yang ingin membangun proses background screening lebih terstruktur, pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan verifikasi pendidikan, riwayat pekerjaan, referensi profesional, dan komponen lain sesuai kebutuhan posisi.
Dalam artikel sumber, layanan MEVIS disebut mulai dari Rp100.000 per kandidat. Harga aktual dapat bergantung pada cakupan layanan dan kebutuhan perusahaan.
Pelajari juga: Berapa Biaya Background Check Karyawan di Indonesia? Panduan Lengkap 2026
Apa yang Bisa Dilakukan HR Mulai Hari Ini
Audit proses verifikasi identitas saat ini: apakah hanya memeriksa dokumen kandidat atau juga melakukan cross-check ke sumber independen?
Tentukan komponen background screening berdasarkan kebutuhan dan profil risiko posisi.
Pastikan kandidat memperoleh informasi yang jelas mengenai proses verifikasi dan persetujuan yang diperlukan sebelum data diproses.
Tentukan apakah posisi tertentu membutuhkan rescreening atau monitoring berkala.
Dokumentasikan sumber, hasil, dan status setiap proses verifikasi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apakah HireRight Global Benchmark Report 2026 memiliki data khusus Indonesia?
Dalam artikel ini, data yang digunakan adalah data regional APAC, bukan breakdown khusus Indonesia. Data internal MEVIS digunakan sebagai konteks tambahan.
2. Apakah 64rarti 64% kandidat di APAC melakukan identity fraud?
Tidak. Angka 64% mengacu pada organisasi yang melaporkan pernah menemukan setidaknya satu kasus identity fraud pada 2025, bukan persentase kandidat.
3. Apa hubungan identity fraud dengan background screening?
Identity verification dapat menjadi salah satu komponen background screening untuk membantu memastikan identitas kandidat sebelum keputusan rekrutmen.
4. Apakah background screening hanya perlu dilakukan sebelum hiring?
Tidak selalu. Untuk posisi tertentu, perusahaan dapat mempertimbangkan rescreening atau monitoring berkala sesuai kebutuhan, kebijakan internal, dan profil risiko.
5. Mengapa verifikasi identitas tidak cukup hanya dengan melihat dokumen kandidat?
Pemeriksaan dokumen dapat menjadi bagian dari proses, tetapi cross-check ke sumber independen memberikan validasi tambahan terhadap informasi yang disampaikan kandidat.
Bagaimana MEVIS membantu perusahaan melakukan identity verification?
MEVIS menyediakan proses verifikasi identitas dan background screening yang dapat dipantau melalui platform ONYX. Cakupan layanan dan harga disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Kesimpulan
Data HireRight Global Benchmark Report 2026 menunjukkan bahwa 64% organisasi di APAC melaporkan menemukan identity fraud pada 2025. Temuan tersebut tidak berarti 64% kandidat melakukan fraud, tetapi menunjukkan bahwa risiko identity fraud dapat muncul pada berbagai tahap dalam siklus karyawan.
Bagi HR Indonesia, pelajaran terpenting adalah membangun proses verifikasi yang konsisten: identitas dikonfirmasi, informasi kandidat diverifikasi melalui sumber yang relevan, dan proses didokumentasikan dengan baik. Background screening yang terstruktur dapat membantu perusahaan membuat keputusan hiring dengan dasar informasi yang lebih kuat.
Referensi
HireRight Global Benchmark Report 2026: https://www.hireright.com/resources/employment-screening-benchmark-report
PDDIKTI Kemendikbud - Verifikasi Pendidikan Tinggi Indonesia: https://pddikti.kemdikbud.go.id
UU No.27/2022 - Perlindungan Data Pribadi: https://peraturan.bpk.go.id/Details/228547/uu-no-27-tahun-2022
FATF - Identity Fraud and Financial Crime: https://www.fatf-gafi.org
LinkedIn Talent Solutions - APAC Hiring Trends: https://business.linkedin.com/talent-solutions
SHRM - Identity Verification in Hiring: https://www.shrm.org
ACFE - Occupational Fraud Report: https://www.acfe.com
MEVIS - Background Screening Indonesia: https://mevisindo.com
Mau Rekrut Lebih Percaya Diri dan Hindari Identity Fraud?
Dapatkan E-Book Gratis: "Jangan Rekrut Orang Asing"
Panduan background screening praktis dari sesama teman HRD Indonesia.
Kirim WhatsApp ke: 0812-1268-0072
Tim MEVIS akan kirimkan e-book langsung ke kamu. Gratis. Tanpa komitmen.
Atau kunjungi: mevisindo.com
Background screening mulai Rp100.000 per kandidat